Setiap orang merindukan cinta dan kasih sayang. Bila cinta datang menyapa, maka akan
terbetik rasa memiliki yang sangat mendalam. Pautan dua hati melahirkan rasa
rindu dan suka. Bila ia berjumpa maka hatinya akan bahagia, bila keduanya
berpisah maka sedih dan duka lara yang akan dirasakannya. Perpisahan adalah
pertemuan yang tertunda. Maka hubungan surat biasanya merupakan jalan
bertemunya hati.
Seorang
gadis mengunci dirinya di kamar. Ia asyik membaca sesuatu. Diatas pembaringan
ia mengamati untaian kata dalam secarik kertas dengan penuh ceria.
Sebentar-bentar dari bibirnya tersungging senyuman. Itulah pertama kali dia
mendapatkan surat cinta dari kekasihnya yang ada diluar negeri. Betapa senang hatinya, betapa gembira
jiwanya. Kerinduan yang lama
terpendam kini agak terobati dengan kedatangan surat itu. Berbahagiakah gadis
itu? Atau hanya sekedar senang?
Bila cinta
pada seseorang manusia dapat menyenangkan manusia sedemikian rupa seperti
gambaran diatas, maka bagaimanakah cinta dan kasih sayang Allah?
Dapatkah
cinta dari lawan jenis memenuhi kebutuhan kita terhadap kasih sayang? Tidak,
cinta manusia hanyalah cinta yang sifatnya sementara. Tidak kekal abadi dan
akan lenyap ditelan masa. Kebahagiaan gadis itupun bersifat semu... Bayangkan,
bila nanti sudah bertemu, ternyata pemuda itu hanya pandai merangkaikan
kata-kata diatas kertas. Sifat dan perbuatannya kasar, kelakuannya memuakkan.
Manusia
merindukan cinta abadi dan sejati ...Cinta tulus ikhlas. Apakah cinta yang
dirindukan seorang muslim atau muslimah? Cinta yang paling utama adalah cinta
Allah Yang Maha Pencipta. Dialah yang memberikan kasih sayangnya kepada
orang-orang yang beriman dengan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan
apa-apa.
Mungkin timbul pertanyaan : Bagaimanakah Allah menyayangi manusia?
Jawabnya :
Pada dasarnya, Allah Yang Pengasih Lagi Maha Penyayang mencintai seluruh
manusia tanpa pandang bulu. Kasih Allah kepada manusia terrealisir dengan
diberikan-Nya berbagai nikmat yang tiada terkira banyaknya. Phisik kita adalah
nikmat Allah, makanan dan minuman kita adalah nikmat Allah, kesehatan kita
adalah nikmat. Allah bahkan setiap tarikan nafas dan detak jantung kita adalah
nikmat Allah pula.
Ditempatkannya kita dibumi dengan berbagai fasilitas juga nikmat. Segala
potensi alam dan kekayaannya diperuntukkan Allah bagi manusia. Kemudian Allah
menjadikan akal dan kecerdasan sebagai nikmat. Dengan akal manusia diberi ilham
oleh Allah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka produksi
dari pengembangan teknilogi membuat manusia hidup semakin nikmat. Pendeknya,
nikmat atau tanda kasih sayang Allah sangat banyak, tidak terhingga! (14:34)
Itulah
nikmat Allah yang disebarkan-Nya secara merata kepada manusia, tanpa apakah dia muslim atau kafir.
Sayangnya, banyak manusia lalai berterima kasih dan menggunakan nikmat itu
untuk hal-hal yang dikehendaki Allah. Padahal semua pemberian Allah ini bersifat sementara
karena akan berakhir bila mereka mengalami kematian.
Dalam
nikmat yang banyak itu, ada satu nikmat yang utama. Nikmat inilah yang akan
mengantarkan kita pada nikmat yang abadi dan kekal. Itulah hidayah atau
bimbingan Allah. Berbeda dengan nikmat lain yang diberikan kepada semua orang,
nikmat hidayah ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Lantas
siapakah orang-orang yang dipilih Allah untuk memperoleh nikmat hidayah?
Selain
dari para nabi dan rasul, diantara ummat manusia pun ada yang memperoleh nikmat
hidayah sebagai karunia Allah. Mereka adalah pengikut para rasul, utusan Allah.
Saat sekarang, Al Quranul Kariim merupakan nilmat hidayah yang tiada taranya.
Inilah mukjizat abadi yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW agar beliau
senantiasa dapat memimpin ummatnya. Ummat Islam yang memperoleh hidayah ini
adalah mereka yang dalam hidupnya selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat:
1. Ikhlas, yaitu
hidup bertauhid, tidak mensyarikatkan Allah baik dalam hati, lidah maupun
perbuatan. Orang yang ikhlas adalah mereka yang senantiasa mencari ridha Allah
saja dalam setiap langkah hidupnya. Al Quran merupakan "rumus-rumus menuju
keridhaan Allah" atau "rambu-rambu jalan menuju syurga ". (5:16)
2. Mengimani dan
mencintai Allah dengan sebenar-benarnya. Iman yang didasari cinta kapada Allah
tidak akan bertepuk sebelah tangan. Allah akan membuat dia dekat dengan
diri-Nya. Jalannya tentu sdaja dengan memberikan hidayah dalam hatinya. (2:165
/ 64:11).
3. Berjihad, yaitu
mengamalkan semua kehendak Allah. Atau bersungguh-sungguh dalam mencari
keridhaan Allah itu. (29:69).
4. Shabar, yaitu
tidak pernah putus asa, mengeluh atau berhenti karena ada suatu halangan. Terus
dengan mewujudkan upaya mencari ridha Allah setiap langkah kehidupan. Duka cita
yang menimpa tidak akan melemahkan, kesenangan yang diperoleh tidak membuat
lupa daratan, itulah sabar menghadapi berbagai situasi. (2:157)
Dari itu,
mana mungkin orang yang tujuan hidupnya bersenang-senang, bergelimang dalam
dosa atau enggan mentaati Allah akan mendapat hidayah Al Quran. Bimbingan Allah
tidak datang begitu saja tanpa usaha kita. Mereka yang tidak mendapat hidayah
itu disebabkan kerena kelalaiannya sendiri!
Cobalah
renungkan, berapa banyaknya manusia yang enggan meraih kasih sayang Allah ini.
Kedua matanya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah,
kedua telinganya tidak dipakai untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, mereka
mempunyai hati dan akal, tetapi malas berpikir! Mereka tidak berupaya
menghidupkan iman dalam jiwanya. Mereka asyik bergumul dengan cinta antara
sesama manusia yang rendah dan melalaikan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar