Nyalasar Hari Ke-1 dan
Ke-2 (26/27 Januari 2014)
Kumpul di bawah menara Al-Furqon, jam berapa ya? Lupa. Di
hari pertama kami masih sibuk mempersiapkan peralatan yang akan dibawa. Kata
panitia silahkan, tapi ba’da ashar harus sudah siap semua. Pembukaan
berlangsung ba’da ashar. Setelah itu kami digiring ke masjid baiturrahiim di
Gerlong tengah untuk MABIT. Disana kami dibekali ilmu lagi oleh SSG,
tentang kesehatan kalau nggak salah. Lalu materi tentang kematagiraan. Ada
pertanyaan dari salah satu dari kami, tami jawabannya malah disuruh nyari
sendiri. Hadeeuh. Lalu kubilang, masak orang nanya malah disuruh nyari jawaban
sih kalau udah tau nggak akan nanya. Pada tertawa semua.. hahaha. Setelah itu
kami istirahat sejenak, pada pukul 02.00 dini hari (kalau nggak salah) kami
dibangunkan untuk melanjutkan kegiatan. Setelah sholat tahajud, kami diberi
pengarahan untuk kegiatan selanjutnya. Kami harus jadi tour guide panitia
menuju sukawana (boleh tanya-tanya ke orang yang dijumpai). Kami pun berangkat longmarch dari gerlong ke sukawana.
Kebayang kan jauhnya…
Nggak usah
ditanya lagi gimana rasanya.. adzan subuh kami istirahat di sebuah masjid.
Setelah itu melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah perjalan kami sesekali
istirahat, sambil cek detak jantung. Pukul 07.00 kami sampai di jalan apa lupa
namanya, tapi kalau lewat selalu inget..kami istirahat disana sambil saran.
Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami memasuki kawasan
sukawana, kami beristirahat disuatu tempat, dibawah pepohonan, disana kami
diajarin cara membuat kompor trangia. Setelah selesai dan dirasa cukup, kami
melanjutkan perjalanan.
“kalian
lihat itu, itu tujuan kita”, kata mas’ul MG
…………………………………………………………………………………….....................................................
Akhirnya
kami sampai ditempat tujuan. Disana sudah ada para panitia lain yang menunggu.
Banyak hal yang kita lakuin disana. Kami ngecamp
semalam. Keilmuan yang diterapkan adalah pemetaan.
Hari Ke-3 (28 Juni 2014)
Hal-hal yang tak bisa dilupakan itu,
makan nasi belum mateng sempurna, ketika malam hari hujan aku harus tidur
dengan memegangi ponco yang kita buat menjadi tenda agar tidak bocor. Yang
lainnya mah tidur nyenyak. Ketika panitia mengunjungi kami dan bertanya apakah
kami sudah tidur? Kehujanan atau tidak? Aku hanya diam, pura-pura tidak
mendengar. Karena kalau menjawab nanti di suruh buat ulang tendanya. Jadi
memilih diam. Terus di pagi hari kita disuruh saling menggosok gigi ke mulut
teman pakai tangan kita, jadi mutar. Terus kita disuruh masak cacing sondari.
Idiiih geleuh. gue itu paling nggk
suka cacing, takut sih enggak tapi kalau kata orang jawa nggilani. Jadi yang banyak mengolah itu temen-temen. Kami
menumisnya dengan terasi. Katanya cacing sondari itu halal dan tinggi
proteinnya. Dan masakan kami
di bungkus oleh panitia.
Setelah membereskan peralatan kami melanjutkan perjalanan. Disinilah
“penyiksaan” yang lebih ekstrim dimulai. Jalan jongkok menaiki tanjakan, tiarap
di darat dan di becekan. Dan ditengah perjalanan ada implementasi PP membuat
tandu. Lalu makan siang ternyata makanannya cacing yang sudah kita olah,
dicampur nasi, roti, terus apalagi lupa, pokoknya bener-bener nasi campur. Disuapin satu-satu.
……………………………………………………………………………………………………................................
Malam hari Kami ngecamp di Leweung Poek. Disini kami mulai solo biouvak Menurut gue di leweung poek
inilah yang paling nyaman untuk tidur. Karena pada malam hari nggak hujan. malam hari disuruh push-up, guling
guling, jalan jongkok mengelilingi pohon besar, sambil dibentak-bentak. Dan
ditempat itu pula kami diajarkan lagu hymne nyalasar karya mas’ul MG.
Lagunya perlu ditulis biar terkenang selalu. Judulnya daku kini. Cekidot..
Daku kini, tiada berarti
Hidup didalam gemblengan
Siang malam, dirundung malang
Badan terasa disiksa
Habis gelap terbitlah terang
Kuat kan iman selalu
Tabahkanlah lapangkan dada
Jauh dari putus asa
Segitu aja sih yang diajarkan ke kita. Tapi kayaknya masih ada lanjutannya
di nyalasar 4, lupa lanjutannya gimana. Hehe
Sebenarnya kami juga disuruh buat yel-yel sih, tapi lupa yel-yelnya
gimana, dan akhirnya yel-yel ikhwan
dijadikan lagu kebangsaan AM3.. yuuk di simak, nadanya nada lagu ninja hatori.
Pada tau kn?
Mendaki gunung lewati lembah
Sungai mengalir indah ke samudra
Bersama teman ikut nyalasar
Teng…. (sambil gaya ya, angkat jari telunjuk)
Oh ustadz dan ustadzah ngajak jalan-jalan ke gunung
Oh Subhanallah.. alam ini sungguh sangat indah, sangat
indah
Oh indahnya, sungguh indah sekali…
bivak ikhwan olahraga malam
Hari Ke-4 (29 Januari 2015)
Di pagi hari kami mengimplementasikan materi botani. Disuruh belanja
mencari tumbuhan dan hewan yang bisa dikonsumsi. Setelah itu lomba masak, kami unggul di sayur, ikhwan unggul di
minuman. Dihari ke-empat ini kami melakukan perjalan ke kawah ratu. Ada yang bertugas jadi leader, sweaping, dan notulis. Kami disuruh membuat jejak. Kami
sampai di lokasi kurang lebih jam setengah 2. Kira-kira perjalanannya 2 jam-an.
Sayangnya kawahnya sedang berkabut, jadi tak terlihat.
Sore hari Menuju
ke tempat selanjutnya dengan solo moving. Jalan sendiri
menuju tempat selanjutnya. Kami harus mengikuti petunjuk jalan dari tali rafia
yang di ikat pada tumbuhan. Ini yang paling seru. Harus buru-buru, sebelum
maghrib harus sampai. Agak ngeri juga sih,
takut nyasar. tapi disana itu udah rame, banyak yang sedang main motor treal.
Jadi aku fikir nggak akan nyasar, kalaupun nyasar pasti ada orang yang lewat.
Akhirnya berhasil juga. Dan yang paling menyenangkan itu ketika yang lain
nyebur kolam alami (becekan) aku tidak melewatinya, aku memilih jalan pintas.
Sebenarnya aku nggk tau kalau itu jalan pintas, ketika melihat genangan air itu
disampingnya ada jalan setapak. Aku coba lewat jalan itu, tembus juga, tapi ini
benar nggk ya? Aku coba membuktikan ternyata benar. Yeeaay, aku terbebas dari
genangan air itu. Hehe
Ngecamp di jaya giri. Malam hari kami membuat makan malam bersama. Setelah makan malam kami
kembali ke biouvac masing-masing, tapi pada lupa letak biouvac masing-masing.
Hahaha akhirnya kami mencari dulu, biouvacku yang belum ditemukan akhirnya dibantu nyari sama ustadzah yang sedang keliling. Tanpa saya
sadari ternyata syal saya terjatuh. Ketika sadar aku langsung mencarinya
dibantu oleh teman-temanku. Tetapi syalnya tidak ditemukan… huhuhuhu. Panik.
Aku teringat aan punya syal yang belum terpakai, lalu aku mencoba mensiasati
dengan syal itu, membuat duplikatnya.. hahaha bodor lah..
Hari ke-5 (30 januari 2015)
Masih di
jaya giri tapi ditempat yang berbeda. Hari
ke-5 hari yang membahagiakan karena seharusnya ini hari terakhir. Pagi hari kami ditanya
udah tercapai belum target amalan yaumiyahnya? Dzikir 1000 per hari/ tilawah 5
juz/ 5hr. karena belum mencapai target, kami disuruh guling-guling bolak balik…
terus disuruh berendem nerusin tilawahnya.. bbrrrrr dingiiin.. ada sebuah
insiden lupa tepatnya kapan, pokonya ada
insiden yang terjadi. Ustadzah aul memeriksa syal duplikat saya, ketahuan kalau
itu palsu. Ternyata syal saya sudah ditemukan oleh panitia. Di tempat berendem
saya diomelin.. memperebutkan syal duplikat itu. Pokoknya debat dulu lah, tapi
akhirnya syal asli kembali. Sebelumnya insiden hilang pernah terjadi pada
temanku juga, dan hendak dipulangkan juga, tp akhirnya dikembaliin..nggk sampai
buat duplikat sih.. hahaha ini bodor banget lah…
Di hari
“terakhir” kami diajari cara membuat kalong sare (seperti ayunan gitu) dari
sarung dan tali. Tapi aku nggk bawa sarung, jadi dipinjemin sama ustadz Fredi.
Istirahatlah kami dengan sare kalong tersebut. Ceritanya tidur siang gitu.
Cukup lama waktunya, tapi nggk bisa tidur. Setelah itu dijari membuat biouvac
alam. Di sini ada ustadz dan ustadzah yang datang membawa peradaban (makanan
maksudnya) hehe, ada ustadz Ence, dan Ustadz Heri, ustadz Dera, juga Ustadzah
Ria. Mereka ngajak cerita gitu, gimana perasaanya? Widiiih pakai ditanya gitu.
Saya kira
diklatnya nggk ada komdis galak bukan komdis unyu (ala PAB jurusan) ternyata
lebih parah euy…
Daaaaan.. tau nggk sih.. di balik makanan
peradaban itu ternyata eh ternyata ini
bukan hari terakhir, ditambah sehari lagi.. hiks hiks
Menjelang malam barang bawaan kami diperiksa dan dikumpulin. Kata panitia
masih banyak tuh persediaan, masih bisa kalau ngecamp sehari lagi. Lucunya kan seharusnya di suruh bawa sarung
untuk pengganti sleepingback, tapi aku malah bawa seprei.. hahahaa
Kata panitia mau nyelimutin tanah ya? Tanahnya kedinginan ya hahaha…
padahal kan enak buat alas tidur.. tapi disuruh baa sarung itu ternyata untuk
sare kalong juga. Akhirnya sarungnya dipinjamin bang ipul Lalu sisa-sisa peralatan
itu dibagi rata. Kami disuruh membuat
biouvac yang jaraknya 20 langkah dari biouvac lainnya. Tugas tambahannya disuruh buat surat
renungan gitu. Kesulitannya ada pada
penerangan. Koreknya dibagi-bagi tapi kore lidi, lilin satu ewang. Jadilah aku
nulis dengan penerangan alami. Nggk begitu jelas sih.. jadi di kira-kira aja
hasilnya acak-acakan ..
Kami
dikumpulkan, kami dibohongi nyalasar gagal, nggk bisa dapat syal, ada yang nggk
ikut long march, ada yang bikin syal duplikat… tes mental gitulah.. ditanya
keberatan nggk nambah hari.. aku sih sebenarnya udah ingin pulang aja, nggk da
alas syar’I untuk menolak.tapi yang lain katanya sudah ada agenda, ada yang
jadi panitia jum’atan…parebut bendera MG, kami berfikir, sia-sia aja
pengorbanan kalau dibubarkan gitu aja. Akhirnya malam itu kami mendatangi
ustadz dan ustadzah satu persatu untuk meminta maaf atas kesalahan kami.
Yeeeayyy, Alhamdulillah di maafkan…
Hari ke-6 (31 januari 2015)
Bener-bener
hari terakhir… uyeeeeeee, senangnya…
Tapi masih
ada penyiksaan, melewati kolam alam dengan tetap pakai cariel, seperti evakuasi
banjir gitu. Dan saat itulah kami di beri nama rimba, kami disuruh menyebutkan
sifat kami ketika nyalasar. Ku bilang mungkin saya terlihat dingin banget ya,
jadi kayak dongkol gitu, padahal sama sekali dongkol, kesel sih iya tapi nggk
sampai dongkol. Dan akhirnya aku mendapat nama “SEKADONG” teriak
keras-keras
“SANTRI 05
MAKARTI IKA WIDI ASTUTI, NAMA RIMBA SEKADONG”
Nggk tau
persis sih kepanjangannya, yg jelas dong-nya itu dongkol.
Nobalem (
teh novi), kamendor (aan) teledor orangnya, sirgi (kang cahyana), tungir (bang
ipul) suka nyengir., dan Khogun (kang akbar) khotib gunung. Selama perjalan
kami juga harus sudah menyiapkan nama angkatan.
Lalu kami
melanjutkan perjalanan, memasuki pemukiman warga, yel-yel tak lagi kami
suarakan. Banyak warga yang mau membantu memberi kami tumpangan, tapi nggk
disetujui panitia. Gue udah capek banget padahal, badan udah sakit semua.
Dilembang
ada tanjakan cinta, weeewww panjang banget, dengan di gandeng ustadzah aul
akhirnya berhasil melewati tanjakan tersebut.
Sampai
dipasar lembar istirahat, ternyata kami disewakan angkot, alhamdulilla, tapi
nggk sampai UPI. Berhenti di cipaku. Lalu melanjutkan perjalanan ke UPI.
Setengah perjalanan, tulisan yang kami buat diminta sama panitia. Niatkan jama’
takhir ya… manghrb ke isya kata panitia
………………………………………………………………………………………………………….........................
Sampailah
di parkiran Al-furqon… Alhamdullillah…
Cerita-cerita
dulu, ditanya nama angkatan, akhwat nggk punya ide, tapi ada usul dari ikhwan
akhirnya memutuskan nama angkatan kita yaitu “SALIAT KULIT SONDARI”. Karena
nyalasar kita itu pengorbanan dan perjuangannya cetar menggelegar, tapi kita
tetep kuat, selihat kulit sondari yang perah kita olah…
Tibalah
pengukuhan.. pengukuhan AM 3 ini romantic banget… kayak candle light dinner,
tapi bareng-bareng nggk berdua aja.. ada lilin-lin gitu.. makanannya super
banget, ada rambutan, pisang, sushi, ayam.. wuiiih penyambutannya luar biasa
bangeet… hanya di AM 3 ini..
Setelah itu
ada sms masuk dari para anggota MATAGIRA, ucapan selamat bergabung di
MTAGIRA gitu…
Alhamdulillah
senengnya.. akhirnya berhasil jadi anggota resmi juga.
*sayangnya
nggk punya fotonya
Begitulah
kisah nyalasar 3… kereeen binggo kn.. meskipun angkatan percobaan,
nyalasar terlama tapi kualitas dari AM 3 tak diragukan kn? Hehehe
Dan itulah yang membuat aku tak bisa
meninggalkan ataupun melupakan MATAGIRA. Kisah yang selalu terkenang…
SEMUA KARENA CINTA…
SALAM CINTA DALAM DEKAPAN UKHUWAH…J
Inilah para panitia super
NB: ust. epul mas'ul periode 2013-2015, periode sekarang 2015/2016 mas'ulnya ust. cahyana
meskipun abah dan ustadzah aul itu super tega saat nyalasar tapi sebenarnya baik binngo ko.. tuntutan skenario aja itu mah hehehe.. eh kayaknya ustad risman juga hadir. tapi kok nggk ada fotonya ya....yasudahlah

















